Anak 12 tahun jadi pahlawan saat tsunami di thailand

Standar

anak 12 tahun tilly smith menyelamatkan lebih dari 100 orang dari bencana tsunami di thailand

Tragedi gempa dan tsunami, 26 Desember 2004, mencatat jasa seorang pelajar berusia 12 tahun karena berhasil menyelamatkan nyawa lebih seratus orang. Semua itu berkat pelajaran geograpi di sekolahnya.

tsunami , tlly smith

penghargaan dari PBB

gadis penyelamat saat tsunami di thailand

Adalah Tilly Smith pelajar sekolah dasar dari Inggris. Ketika bencana itu terjadi, pagi itu dia sedang berlibur di Pantai Phuket Thailand bersama keluarganya. Saat itu Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) mencatat, gempa berskala 8,7 skala ritcher yang berpusat di pantai barat Aceh. Gempa juga mengguncang beberapa wilayah antara lain Meulaboh, Singapura, termasuk Phuket, Thailand tempat Tilly dan keluarga berlibur. Tampak dalam pandangan Tilly air laut tiba-tiba surut.

Bocah itu tersentak.

Seketika dia teringat apa yang dulu diajarkan guru geografi-nya, Andrew Kearney. Salah satu tanda munculnya tsunami adalah gempa yang diikuti dengan surutnya air.

Menyadari kejadian mengerikan bakal terjadi, remaja muda belia ini sontak meneriakkan tanda bahaya kepada masyarakat yang berada di kawasan tersebut. Sayang tak semua mendengarkan. Atau, tidak semua percaya sehingga sebagian tak acuh. Ternyata benar. Beberapa saat setelah air laut surut, gelombang besar menggulung pantai dan wisatawan yang sedang bersenang-senang. Orang-orang yang mendengarkan dan percaya seruan peringatan Tilly berhasil diselamatkan. Namun yang tidak percaya, tewas ditelan ombak. Dalam tragedi naas itu, Tilly berhasil lolos dari maut dan lebih 100 orang berterima kasih padanya karena berhasil menyelamatkan nyawa mereka.

Dalam tragedi yang sama, bocah seusia Tilly di Meulaboh justru malah sibuk mengambil ikan ketika air laut surut beberapa saat setelah gempa. Warga lainnya sibuk mengevakuasi barang-barang yang tertimpa reruntuhan bangunan tanpa sadar bahaya lain lebih dahsyat sedang menanti.

Padahal, bila pengetahuan geograpi dikuasai, menurut para ahli sebenarnya masyarakat punya waktu setengah jam untuk menyelamatkan diri dari bahaya tsunami. Sayangnya tidak ada ‘Tilly’ di situ.

Nah, kisah Tilly dalam tragedi tsunami menginspirasi Yayasan HOPE worldwide Indonesia, agar tidak memandang sebelah mata peran siswa dalam upaya meminimalisir korban bencana. Wacana mengajak peran serta siswa, guru dan sekolah untuk membekali pengetahuan meminimalisir korban bencana ini dipaparkan dalam diskusi bertajuk “Peran Guru & Sekolah Dalam Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana”. Seminar tersebut digelar di Aula Dinas Pendidikan Medan, Rabu (4/2).

Kegiatan tersebut dipandu Rabinsar Parulian Silalahi, salah seorang pekerja sosial selaku Sumatera Coordinator dari Yayasan HOPE worldwide Indonesia. Dalam paparannya Rabinsar mengatakan, guru dan sekolah adalah pihak yang tepat untuk memberikan informasi mengenai penanggulangan bahaya bencana alam mengingat profesinya sebagai pendidik yang dapat menanamkan nilai-nilai dan pengetahuan kepada siswanya.
“Sampai sekarang saya masih mengingat ‘abang Budi bernama Iwan’ dan ‘kakak Budi bernama Wati’ dalam materi pelajaran buku Bahasa Indonesia yang saya dapat dari SD dulu,” terang Rabinsar.

Seandainya semua siswa dapat menjadi seperti Tilly yang berkat ingatan tajamnya akan pelajaran yang diberikan sang guru hingga berhasil menyelamatkan sekitar 100 orang dari maut tsunami, sudah berapa jiwa yang diselamatkan karena pengetahuan akan tanda-tanda bencana ataupun pertolongan pertama yang harus dilakukan saat bencana terjadi? Pun berkat kepahlawanannya gadis berambut pirang tersebut mendapat penghargaan dari Presiden Amerika Serikat terdahulu Bill Clinton.

Indonesia terdiri dari 17.583 pulau, 5.000 sungai besar yang 30 persen di antaranya melewati daerah padat penduduk, 400 gunung dengan 148 di antaranya berstatus aktif. Sementara data bencana di Indonesia sejak 2002 hingga 2007 sudah terjadi 68 kali gempa, 152 kali banjir, 1.223 kali tanah longsor, dan 315 kali angin puting beliung.

Dan ternyata menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana, kerusakan bangunan sekolah akibat bencana alam dari 2003 hingga 2007 berjumlah 2.094.768. Korban jiwa paling banyak menimpa anak-anak dan wanita. Menyadari hal demikian perlu adanya pemberian materi mengenai kesiapsiagaan guru dan sekolah dalam penanggulangan bencana yang pada akhirnya ditularkan kepada siswa-siswa. “Dan dari siswa akan mengalir ke keluarga dan lingkungan sekitarnya,” ujar Rabinsar.

Apalagi Undang-undang Nomor 24 tentang penanggulangan bencana telah disetujui dalam Sidang Pleno DPR RI 29 Maret 2007 dan telah disahkan oleh Presiden RI 27 April 2007. Sehingga, menurut Rabinsar, tak hanya pemerintah masyarakat juga berperan serta dalam penanggulangan dan persiapan bencana. Oleh karenanya Yayasan HOPE worldwide Indonesia berencana akan menggelar pelatihan kepada guru-guru di Indonesia, salah satunya adalah kota Medan dimana kebakaran, banjir, angin puting beliung, gempa bumi dan tsunami adalah bencana alam yang kerap menjadi langganan di Medan.
Perlu Pelajaran Bencana Alam

Menanggapi wacana yang ditawarkan Yayasan HOPE worldwide Indonesia, sekitar 39 guru yang hadir dalam seminar tersebut memberikan respon positif. Marangkup Siahaan selaku guru Geografi dari SMP Methodist 1 mengatakan, persiapan penanggulangan bencana di butuhkan di sekolah, mengingat risiko bencana alam yang ada di seluruh Indonesia tidak menutup kemungkinan akan terjadi di Medan. Dan salah satunya adalah dengan materi yang diajarkan di sekolah. “Seandainya tidak, kita tak akan tahu bilamana suatu saat berada di pantai ataupun berada di kaki gunung dan bencana terjadi. Karena sudah tahu sehingga dapat mengurangi resiko yang kecelakaan yang terjadi. Tak hanya sekolah saja, tiap-tiap kelurahan pun membutuhkan juga,” ujarnya panjang lebar.

Sementara itu guru lainnya, Herliadi yang juga Kepala SMP Asahan Raya. “Kota Medan sedang berada dalam masalah lingkungan yang riskan ada banyak warga yang tidak memiliki kesadaran akan lingkungan sehingga membuang sampah seenaknya terutama di sungai,” katanya.

Sehingga perlu adanya sosialisasi pengurangan risiko bencana di tingkat pendidikan. Salah satunya adalah dengan memberikan materi mengenai waspada bencana dalam ekskul-ekskul di sekolah tak hanya dalam mata pelajaran tertentu saja tetapi lebih spesialisasi.

“Di SD Budi Murni sudah ada pemahaman tentang bahaya bencana alam dalam ekskul Pendidikan Jasmani tapi hanya sekilas saja dan sebaiknya memang dikhususkan mengenai materi tersebut,” kata T Perangin-angin Kepala SD Budi Murni.

Perangin-angin bercerita, tahun 2004 terjadi kebakaran di sekolahnya yang terletak di kawasan Simalingkar. Untung saja saat itu masa-masa libur dan tidak ada siswa ataupun pengajar di sekolah. Dengan mengikuti seminar dan berkaca pada pengalaman sebelumnya T Perangin-angin merasa materi tentang waspada bencana alam perlu diterapkan. Kapan? “Kita tidak bisa langsung menerapkannya dalam sekolah harus menunggu keputusan Diknas,” jawabnya.

Meski peserta diskusi sepakat bila penanggulangan bencana jadi pelajaran khusus di sekolah, namun Kepala Dinas Pendidikan Medan Hasan Basri menganggap hal itu belum terlalu penting. Dia beralasan, materi mengenai kesiapsiagaan guru dan sekolah akan bencana alam adalah pengetahuan umum dan bersifat substansial, artinya sudah ada dalam beberapa pelajaran seperti IPA ataupun IPS. “Kalau dibilang penting semuanya penting seperti pelajaran tentang lalu-lintas tapi karena penting kan tidak semuanya langsung dijadikan pelajaran, untuk itulah pentingnya ekstrakulikuler, sehingga mater-materi umum yang penting dimuat di dalam ekstrakulikuler,” bebernya.

Dengan kata lain Hasan Basri menyebut materi mengenai kesiapsiagaan guru dan sekolah menghadapi bencana tidak menjadi prioritas utama. “Tapi tetap saja kegiatan-kegiatan seperti itu yang dimuat dalam seminar, workshop baik untuk diadakan,” terangnya.

Hal yang sama juga diutarakan Dr Mutsyuhito Solin, Mpd selaku Ketua Dewan Pendidikan Medan. Menurutnya, secara umum materi tersebut belumlah dikatakan penting lebih kepada pengetahuan tambahan saja. Untuk dimasukkan ke dalam kurikulum tidak relevan. Jika mengingat pada Orde Baru, menurut Solin, terdapat pelajaran yang tumpang-tindih seperti PSPB dan Pancasila. “Lebih baik jika materi waspada terhadap bencana tersebut dimasukkan ke dalam pelajaran-pelajaran yang berkaitan seperti sains ataupun pengetahuan sosial dan juga ekskul,” sarannya.

Ketika disinggung mengenai kebijakan pemerintah yang cenderung menempatkan sekolah-sekolah ke titik rawan bencana alam seperti kasus SD di Gang Merdeka, Solin berkata ini adalah tanggung jawab Dinas Pendidikan, Pemerintah Kota Medan dan lembaga-lembaga terkait. “Seharusnya sekolah adalah tempat yang nyaman bahkan harus bebas dari kebisingan lalu lintas. Tak ada solusi lain sekolah harus dipindahkan,” tutupnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s